Home Karya Pemuda Kurma (Tafakur, Muhasabah) Segenggam Hikmah di Tengah Pandemi

Segenggam Hikmah di Tengah Pandemi

589
0
Pict: freepik.com

Ada rumah yang rindu suara indah sang empunya tatkala membaca mushafnya. Ada keluarga yang rindu disentuh relung hatinya dengan nasihat-nasihat yang menyejukkan jiwa. Ada setumpuk jendela dunia yang rindu untuk dipelajari serta dipahami; kata demi kata. Ternyata, ada banyak hal yang mungkin jarang kita sadari sebelum masa-masa ini.

Mungkin selama ini kita lupa, bahwa rumah kita hampir-hampir redup cahayanya, karena sang empunya merasa tak punya banyak waktu untuk membuka lembaran-lembaran cinta dari-Nya, apalagi menyelami maknanya. Mungkin selama ini kita sibuk menyentuh hati banyak orang dengan nasihat-nasihat berharga, sehingga tak cukup waktu untuk memberikan hak yang sama bagi keluarga.

Mungkin selama ini kita hampir-hampir tak menyadari, bahwa ada sumber ilmu yang kerap kita biarkan (sekadar) terpajang di sudut-sudut rumah. Lagi-lagi, kekurangan waktu dijadikan senjata utama saat diri tak mampu melakukan banyak hal. Kemudian, hari ini Allah menghendaki kita berada di tengah pandemi, bukankah ini saat yang tepat untuk kembali menginsafi diri?

Inilah saatnya untuk menuntaskan rindu itu, Kawan. Ketika dua puluh empat jam dalam sehari kita habiskan di bilik-bilik rumah, seharusnya dua puluh empat jam kita semakin utuh untuk menghamba kepada-Nya. Seharusnya, dua puluh empat jam kita semakin berkualitas, bukan? Ketika pandemi memaksa kita untuk berjarak dengan manusia, justru inilah saat yang tepat untuk kembali memangkas jarak dari-Nya, dengan melakukan hal-hal yang Dia cinta.

Hari ini, kita melewati hari-hari dengan kondisi tak biasa. Namun, kran-kran pahala tetap mengalir deras seperti biasa. Mungkin ada yang kurang ketika raga tak bisa berkumpul dalam deretan shaf yang sama. Namun, ada banyak peluang kebaikan yang tetap bisa kita lakukan bersama-sama. Ada yang kurang ketika wajah tak bisa saling menatap dalam lingkaran takwa. Namun, adakah yang lebih indah dari saling bertemunya doa-doa, justru ketika raga tak bisa saling berjumpa?

___________

Penulis: Septi Mahmudah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here