Home Kajian PI Pelopor atau Pengekor?

Pelopor atau Pengekor?

250
0
www.freepik.com

Tabligh Akbar Pemuda Istiqamah
Sabtu, 23 Januari 2021
Narasumber: Ustadz Edgar Hamas
Penulis Resume: Neng Rizky Amelia


Sejak dahulu, memang hanya ada jalan yang sama. Hanya ada pilihan yang sama, mau menjadi siapa? Nabi Musa atau Fir’aun? Menjadi pejuang atau figuran? Kualitas seseorang terlihat ketika dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja. Begitu pun ketika kita menilai teman, lihatlah ketika kita berada di bawah, adakah yang menghampiri?
Kita bayangkan jika Al-Aqsha diberitakan telah merdeka, disana kita dalam posisi sebagai apa? pejuang yang mempelopori kemerdekaan dengan materi, fisik, dan doa atau sebagai penonton yang hanya mengomentari kemerdekaannya? Atau bahkan provokator yang menyayangkan pembebasan Al-Aqsha?

Antara Pelopor dan Pengekor
Komentator ialah si pengekor, hanya mengetahui kabar lalu mengomentari keadaan itu. Kita sebagai muslim jangan menjadi pengekor; yang hanya bicara tanpa tahu ilmunya. Apalagi dalam dakwah, tak usahlah kita mengomentari para pejuang hijrah, misalnya.
Ada inspirasi hebat dari kisah Thalut dan Nabi Daud melawan Jalut. Allah abadikan dalam QS. Al-Baqarah: 246-251.
Ketika Bani Israil hendak membebaskan palestina, dalam pemilihan raja, Allah memilih Thalut (karena kuat dalam ilmu dan fisik), tetapi Bani Israil banyak berkomentar,
“Mengapa bukan kita?”
“Dia tak kaya!” dan lain-lain.
Karenanya, ketika kita melakukan kebenaran akan selalu ada saja yang berkomentar.
Kemudian, pasukan itu berangkat, lalu Allah memerintahkan agar jangan minum air sungai itu. Namun, di situ banyak provokator untuk tidak taat pada Thalut. Sehingga dari jumlah 300.000 pasukan, tersisa 313 pasukan saja karena diuji air sungai tersebut.
Mengapa banyak yang gagal?

Sebenarnya jumlah provokator itu sedikit, tetapi komentator jumlahnya banyak. Pasukan Thalut yang siap menghadapi Jalut tersisa 313 orang, mereka bingung karena begitu mustahil mengalahkan Jalut. Majulah seorang anak muda membawa ketapel, siapakah dia? Dialah Nabi Daud ‘alayhissalam.
“Untuk melawan musuh yang diluar perkiraan anda, maka anda juga harus melawan musuh dengan senjata yang tidak diperkirakan oleh musuh.” (Edgar Hamas)
Disana Nabi Daud datang sebagai pelopor.
Maka dalam sebuah perjuangan, sudah menjadi sunatullah jika terdapat provokator, komentator, dan pelopor.
Peran Provokator, Komentator, dan Pelopor

Setelah Nabi Musa dan Bani Israil menyebrangi lautan, menyaksikan pasukan fir’aun tertutup air laut, apa yang dilakukan oleh Bani Israil? Mereka meminta agar Nabi Musa membuatkan Tuhan untuk mereka, na’udzubillahi min dzalik. Bani Israil merupakan salah satu contoh “komentator banget”.
Yang dilakukan Asiyah dalam mempertahankan keimanan, bahkan di lingkungan Fir’aun, itulah mental pelopor.
Persentasenya kurang lebih seperti ini:
20% Pelopor
20% Provokator
60% Komentator

Bisa kita perhatikan, dominan ada di komentator. Maka dari itu, Al-Quran juga banyak mengisahkan orang berjiwa komentator, begitupun di dunia saat ini.
Di zaman kekhalifahan ‘Umar bin Khattab ada seorang pemuda yang berdoa, ia meminta dijadikan sebagai yang sedikit. Alasannya karena golongan orang yang istiqamah, yang bertahan sampai akhir, itu golongan yang sedikit.
Dalam analogi sepak bola, antara pemain dan penonton lebih banyak mana? pasti penonton dan komentator,tetapi yang mendapat gaji besar, pemain atau pelopor. Maka, kita jangan ragu untuk menjadi pelopor.


Sifat Provokator, Komentator, dan Pelopor
Pelopor adalah mereka yang terdepan dalam menyambut kebaikan, berani. Awalnya mereka akan dibenci, akhirnya merekan akan dicintai. Para pelopor ini tak harus dikenal atau terkenal.
Pengekor biasanya adalah komentator dan pembebek. Mereka hanya ikut arus, ikut yang terkuat, ikut yang terlihat keren, bukan karena ilmu dan bukan karena suara hatinya.
Provokator biasanya adalah yang suka menggembosi aksi sang pelopor. Ia tak suka dengan kebaikan, ia bahkan senantiasa memikirkan bagaimana caranya agar kebenaran selalu redup hingga pada akhinya hilang.
Maka begitulah sistem dunia, untuk dikenal hanya ada dua pilihan, menjadi provokator atau pelopor. Tergantung gerakan apa yang digemborkan, kebaikan atau keburukan.
“Jadi provokator, jangan sekali-sekali. Jadi pengekor, ah sayang sekali. Jadi pelopor, itulah yang dinanti.” (Edgar Hamas)
Pengikut biasanya terjadi karena tidak punya ilmu.
Pelopor lahir karena ia tahu ilmunya, ia sadar ada yang tidak baik-baik saja.
Namun, jika bergerak tanpa ilmu, berjuang tanpa ilmu, maka terjadilah kekeliruan yang biasa dilakukan oleh provokator.
“Kalau seseorang sudah selesai dengan sesuatu yang dasar, maka ia akan mampu memikirkan sesuatu yang besar.” (Edgar Hamas)


Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here