Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Mewariskan Visi Besar

Mewariskan Visi Besar

54
0
Pict: unsplash.com

Melihat fenomena hari ini, kita disuguhkan dengan banyaknya kesia-siaan yang tengah merebak di masyarakat dunia. Baik tua maupun muda, semua hanya disibukkan dengan hal yang remeh-temeh, bahkan tidak bermanfaat. Sehingga tingkah laku dan pola pikir tidak memiliki visi misi yang besar, bahkan sama sekali tidak bervisi misi. Fenomena ini sangat berbanding terbalik dengan peradaban Islam yang tidak bisa jauh dengan “kebesaran”. Bagaimana tidak, seseorang yang beriman dan memiliki pola pikir yang jauh, tentu tak akan sempat melakukan hal yang tidak bermanfaat baginya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan pada kita semua dalam haditsnya:

“Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (H.R. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy)

Hadits tersebut memberikan sebuah gambaran bahwasanya orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya. Itulah suatu kebesaran serta visi dan misi seseorang yang Nabi sebut cerdas, karena telah mempersiapkan masa yang akan datang, yaitu kematian. Tentu seseorang yang sering mengingat kematian adalah orang yang sangat visioner. Bagaimana tidak, dia sudah menyiapkan kematiannya padahal belum hinggap kematian itu pada dirinya. 

Mengenai kebesaran, tentu tak hanya terlihat dari kecerdasan seseorang dengan banyak mengingat mati dan hari akhir saja. Kebesaran itu hadir ketika seseorang memiliki visi besar bagi peradaban. Tentunya umat hari ini sangat membutuhkan seseorang yang visioner bagi kebesaran peradaban Islam. 

Berbicara mengenai visioner, mari kita beralih kepada satu sosok tokoh besar Islam, yaitu Muhammad Al Fatih. Muhammad Al Fatih adalah khalifah dari kekhilafahan Turki Utsmani yang merupakan anak dari Sultan Murad II. Seperti kita ketahui, kisah masyhurnya yang heroik menaklukan Benteng Konstantinopel. Kejadian itu tak lepas dari peran guru-gurunya, yaitu Ahmad bin Ismail Al Kurani dan Aq Syamsudin. Mereka berdua banyak berjasa dalam merubah putra mahkota menjadi orang yang hebat. Sifat manja itu sirna ketika pukulan didikan Ahmad bin Ismail Al Kurani mengenai badannya serta visi besar itu tertancap ketika Aq Syamsudin mengajarnya. 

Sejak kecil, setiap selesai belajar, Aq Syamsudin selalu mengajak Al Fatih untuk berkuda menuju Selat Boshporus. Kuda keduanya terus berjalan masuk ke air sampai dalam, sehingga kuda tersebut sudah tidak berani maju. Saat itulah sang guru menunjuk benteng megah itu sembari membacakan janji Nabi, yakni penaklukan benteng oleh generasi dan pemimpin terbaik. Beliau berkata, “Itulah bentengnya, dan kamulah panglimanya!” Dengan bermodalkan hadits Nabi, Al Fatih berhasil menaklukan Benteng Romawi Timur. Setelah satu tahun berselang setelah kegemilangannya menaklukan Konstantinopel, Al Fatih pun ingin mewujudkan hadits Nabi kembali dengan menaklukan Romawi Barat. Namun, takdir berkata lain, saat sampai di daerah kekuasaan Otranto, Italia, Al Fatih wafat di tengah perjalanan menuju Roma. 

Memang sangatlah dahsyat efek yang diwariskan sang guru, salah satunya adalah visi besar yang ingin menjadikan Al Fatih pemimpin terbaik, dengan bermodal keyakinan. Peristiwa di saat Al Fatih kecil yang selalu ditunjukkan benteng Konstatin itu melekat, sehingga melahirkan visi dan pergerakan yang tidak biasa. Wafatnya Al Fatih dalam perjalanan menuju Romawi Barat pun adalah merupakan bentuk isyarat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga Allah sisakan janjinya melalui lisan Nabi, bahwa kelak Roma itu akan jatuh di tangan muslimin. Allah memberhentikan tugasnya bagi Al Fatih untuk pembebasan Roma. Namun, Allah memberikan kesempatan itu bagi kita semua kelak. Ingatlah, warisan Al Fatih ini. Suatu hari nanti, Roma akan terbebaskan!

Referensi:

Budi Ashari, Lc. Inspirasi dari Rumah Cahaya.

Felix Siauw. Muhammad Al Fatih 1453

_________

Penulis: Agung Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here