Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Sahabat & Shahabiyah Nabi Meski Tak Sesempurna Khadijah

Meski Tak Sesempurna Khadijah

451
0
Foto : www.freepik.com

“Sungguh, aku dianugerahi cintanya,” sabda Al-Musthafa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Menjadikan sosok wanita suci (At-Thahirah) sebagai bagian dari kehidupan beliau merupakan kebahagiaan tak terkira. Bayangan kesedihan masa lalu ketika ditinggal sang ibu, seakan sirna dengan kehadiran Khadijah radhiyallahu ‘anha, dengan kelembutan sifatnya sebagai istri dan ibu.

Pada fajar Lailatul Qadr, Al-Musthafa pulang dengan wajah pucat, tubuhnya bergetar hebat. Lailatul Qadr menjadi saat-saat paling mendebarkan dalam kehidupan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, dengan ketenangan yang dimiliki, Khadijah radhiyallahu ‘anha berhasil menepis semua itu.

Suami tercinta didekapnya seraya berkata, “Semoga Allah menjaga kita, wahai Abul Qasim. Bergembiralah suamiku dan tegarlah, karena demi Zat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh, aku berharap kau adalah nabi umat ini. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, kau menyambung tali kekeluargaan, jujur bertutur kata, menanggung beban, membantu orang miskin, menjamu tamu, dan membantu orang kesusahan.”

Bayang-bayang tentang medan yang semakin terjal usai menerima risalah tersebut, tak menyurutkan langkah Khadijah radhiyallahu ‘anha untuk mengiringi langkah perjuangan Al-Musthafa. Khadijah radhiyallahu ‘anha siap berkorban dengan apa pun yang dimiliki: pikiran, tenaga, bahkan harta sekalipun. At-Thahirah senantiasa menjadi pelipur lara, menjadi sosok yang tanpa henti menguatkan pundak sang suami saat beban dakwah kian bertambah.

Hingga masanya tiba, usia Khadijah radhiyallahu ‘anha kian renta. Perjuangan bersama Al-Musthafa hampir menemui ujungnya. Pemboikotan oleh kafir Quraisy tak menyisakan apa pun, kecuali badan yang kian melemah. Menyusul paman Rasulullah tercinta, Khadijah radhiyallahu ‘anha pergi menghadap Rabbnya, menyisakan duka mendalam bagi Al-Musthafa. Amul Hazn (tahun duka cita), begitu sejarah menyebutnya.

Selanjutnya, beban dakwah Rasulullah semakin berat. Cacian, intimidasi fisik, bahkan pengusiran, beliau terima. Waktu terus berjalan, pahit manisnya pengorbanan Rasulullah dan para pengemban dakwah lainnya perlahan-lahan menemui hasil. Fathul Makkah adalah puncaknya. Dalam suasana penuh syukur, dimanakah Rasulullah berada? Tak lain, menemui kekasih tercinta yang menemani beliau di awal perjuangan, Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Meski waktu berganti, kenangan beliau tentang At-Thahirah tak akan pernah sirna. Di hati Al-Musthafa, Khadijah radhiyallahu ‘anha senantiasa hidup. Bahkan, ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyimpan rasa cemburu yang begitu dalam terhadap istri pertama Al-Musthafa. Keutamaan At-Thahirah atas wanita lainnya tak pernah terbantahkan.

Lantas, bagaimana dengan kita, wahai muslimah? Sudahkah kita menjadi sosok yang didambakan kehadirannya serta ditangisi kepergiannya karena luasnya kebermanfaatan yang kita miliki? Sudahkah kita bersegera meninggalkan kenyamanan dunia lalu berlelah-lelah mengejar rida-Nya? Dari ummul mu’minin Khadijah radhiyallahu ‘anha kita belajar tentang cinta, kelembutan, dan pengorbanan yang tulus di atas iman serta tentang bagaimana menjadi wanita setenang malam yang mampu menyejukkan pandangan: mengubah kekhawatiran menjadi energi.

Wahai para muslimah, meski tak sesempurna ummul mu’minin Khadijah radhiyallahu ‘anha, mari terus memberikan sumbangsih terbaik bagi diin ini. Tak perlu menunggu menjadi saudagar kaya agar bisa menyisihkan sebagian rezeki dari-Nya. Tak perlu menjadi bangsawan untuk tetap menjaga kehormatan diri. Sungguh, kemuliaan itu dicari dan diupayakan. Meski tak akan pernah bisa semulia dan sesempurna ummul mu’minin Khadijah, semoga kita mampu menjadi muslimah yang senantiasa rida dan diridai oleh-Nya. Aamiin.


Penulis: Septi Mahmudah

Referensi : Buku Biografi Istri dan Putri Nabi, karya Dr. Aisyah Abdurrahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here