Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Dalam Al Quran Melampaui Batas

Melampaui Batas

31
0

Bismillahirrahmaanirrahim

Beberapa pekan ke belakang, media sosial di negeri ini sempat diramaikan dengan salah satu podcast yang terkesan “mengampanyekan” pasangan sesama jenis. Ada yang pro, tetapi banyak juga yang kontra dengan tayangan tersebut. Alhamdulillah, akhirnya pemilik podcast sudah meminta maaf dan menghapus tayangan tersebut.

Sebagai seorang muslim, Allah memberikan panduan dalam hidup agar tidak tersesat ke jalan yang tidak diridai Allah Swt. Perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) bukanlah perilaku yang baru, tetapi sudah pernah terjadi, bahkan ribuan tahun yang lalu, sebagaimana terekam di dalam Al-Qur’an.

LGBT merupakan perilaku yang tidak normal, bahkan penyakit masyarakat yang harus disembuhkan. Al-Qur’an menggambarkan perilaku tersebut dengan sebutan akhlak “jahiliyyah”.

Tidaklah Allah Swt. menyebut nama “jahiliyyah” kepada suatu masyarakat, melainkan untuk menggambarkan tentang kondisi yang penuh dengan keburukan dan kegelapan serta saat hilang sisi kemanusiaan dan norma-norma yang seharusnya berlaku di masyarakat. Perhatikanlah masa kegelapan sebelum Rasulullah saw. diutus, orang-orang sangat bersedih saat yang terlahir di keluarga adalah seorang wanita: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.” (Q.S. An-Nahl: 58).

Bahkan, lebih mengerikan lagi, saat seorang ayah tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya karena beranggapan bahwa anak perempuan hanya akan membawa kesialan. Kelak, di hari akhirat, mereka akan ditanya tentang perbuatannya:
“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (Q.S. At-Takwir: 9)

Inilah sekilas gambaran tentang kondisi masyarakat yang penuh dengan kegelapan. Al-Qur’an menyebutnya dengan “jahiliyyah”, yakni masa yang penuh dengan kebodohan. Begitu juga penyebutan “jahiliyyah” ditujukan kepada kaum Nabi Luth, di mana pada masa itu, baru pertama kali terjadi sebuah peristiwa di muka bumi, laki-laki mendatangi laki-laki lainnya untuk menyalurkan syahwatnya. Peristiwa ini terekam dalam Al-Qur’an: “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum jahiliyyah.” (Q.S. An-Naml: 55).

Penyebutan kata “jahiliyyah” dalam ayat ini menunjukan bahwa perilaku tersebut bukan mencerminkan moral seorang manusia, tetapi justru menunjukkan akan kebodohan, keterbelakangan, dan sangat menyimpang. Perilaku LGBT bukanlah tren masa kini, tetapi merupakan tren masa lalu yang akan membawa malapetaka dan ancaman bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya karena akan mengundang siksa Allah di muka bumi ini.

Al-Qur’an merekam akibat perilaku LGBT yang akan mengundang siksa dari Allah Swt.:
“Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (Q.S. Hud: 82).

Selain Al-Qur’an menyebutkan kaum Nabi Luth dengan sebutan perilaku “jahiliyyah”, yakni perilaku yang sangat sangat buruk dan tercela, bahkan merupakan penyakit masyarakat yang harus disembuhkan, Al-Qur’an pun menyebut dengan sebutan kaum yang melampaui batas atau “musfirun”. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (Q.S. Al-A’raf: 81)

Kita semua memahami bahwa segala sesuatu yang melampaui batas bukanlah hal yang baik atau membawa kepada kebaikan, tetapi sikap yang akan membawa keburukan, termasuk bagi pelakunya. Misalnya, makan merupakan kebutuhan manusia, tetapi apa yang akan terjadi jika seseorang berlebihan dalam makan? Tentu akan menimbulkan berbagai gangguan dalam fungsi tubuh dan juga penyakit.

Begitu pun perilaku LGBT digambarkan oleh Al-Qur’an dengan perilaku melampaui batas, maka tentu akan membawa efek buruk yang sangat banyak, bukan hanya para pelakunya, tetapi juga makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah menjauhkan kita semua dan keturunan kita dari penyakit tersebut.

Saudaraku, cukuplah Al-Qur’an memberikan peringatan kepada umat manusia, bahwa perilaku LGBT disebut dengan “jahiliiyah” (kaum yang bodoh) dan “musrif” (kaum yang melampaui batas). Sebutan ini sebagai peringatan bahwa perilaku tersebut harus dijauhi oleh umat manusia. Jangan berikan panggung kepada mereka untuk mengampanyekan perilaku bodoh mereka.

======Penulis : Ustadz Indra Ambiya======

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here