Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Madrasah Pertama Sang Penakluk

Madrasah Pertama Sang Penakluk

20
0
source : www.freepik.com

Orang-orang besar tidak berangkat dari jiwa yang kerdil, tidak dibesarkan dalam buaian angan-angan, tidak tumbuh dalam pendidikan ala kadarnya. Jika umat manusia mengenang Muhammad Al-Fatih sebagai sosok melegenda, lantas bagaimana dengan sosok “di balik layar” yang juga memberi sumbangsih besar dalam kehidupan sang penakluk? Seseorang yang turut membangun “pondasi” dengan pendidikan rabbani, deraian air mata, serta doa yang tak pernah ada habisnya. Dialah ibunda Al-Fatih tercinta, Ratu Valide Yumahatun.

Tidur selepas salat subuh tak ada dalam daftar kebiasaan keluarga nan mulia ini. Terlebih sang ibu, tak rela jika keberkahan waktu pagi direnggut oleh tubuh yang malas. Waktu pagi adalah kesempatan untuk menanamkan cita-cita tinggi, memberikan bekal terbaik bagi anak-anaknya, yakni pendidikan rabbani.

“Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu, wahai ibu?” tanya Al-Fatih kecil kepada sang ibu yang tengah mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Sang ibu berkata bahwa kelak Muhammad Al-Fatihlah yang akan menaklukan Konstantinopel. Namanya Muhammad, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Menanggapi pertanyaan Al-Fatih kecil, sang ibu menjawab dengan penuh cinta, “Dengan Al-Quran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia.” Sungguh ibunda yang bijaksana, tak pernah main-main dalam meneguhkan cita-cita anak-anaknya.

Sebuah pelajaran mahal bagi kita, wahai muslimah. Jika kelak putra-putri kita mengutarakan cita-cita besar dalam hidupnya, terlebih cita-cita besar itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi agamanya, tugas kita adalah menjadi sosok yang siap mendukung di garis terdepan. Bukan menjadi sosok yang “mematahkan” dengan berkata, “Aduh Nak, kamu itu kalau punya cita-cita jangan ketinggian.” Sebab kita tak pernah tahu, akan jadi apa anak-anak kita di masa depan. Dukunglah, doakanlah, dan mintalah kekuatan.

Ratu Valide Yumahatun, madrasah pertama bagi Muhammad Al-Fatih yang istimewa. Wanita yang mengerahkan seluruh energinya untuk mendidik calon penakluk yang dijanjikan Rasulullah. Wanita yang berkiprah dari balik bilik-bilik istana, tetapi doanya mendaki hingga ke langit, kepada Rabbnya. Jika saja ibunda Al-Fatih bukan sosok yang gigih dalam mendidik dan mengatarkan anak-anaknya pada visi besar nan mulia, akankah kita mengenal Muhammad Al-Fatih sebagai penakluk Konstantinopel saat ini? Memang, semua telah Allah gariskan sedemikian rupa. Namun, bukankah manusia perlu berikhtiar dengan sebaik-baiknya? Sebab, menyongsong masa depan dengan “tangan kosong” bukanlah hal yang bijaksana.

Bagaimana persiapan kita hari ini, wahai muslimah? Melahirkan generasi bervisi besar tentu berawal dari diri kita. Sentuhan pendidikan ibunda yang memiliki visi luar biasa, Insya Allah mampu menjadi pondasi yang kuat bagi anak-anak di masa depan. Namun, visi besar jika tak sejalan dengan syariat Islam, tak bermuara pada keridaan Allah Ta’ala, hanyalah kesia-siaan belaka. Maka, pastikan kita senantiasa berpegang teguh pada tali yang tak pernah rapuh, yakni “diinul Islam”.

Wallahu a’lam.


Penulis : Septi Mahmudah

Referensi:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here