Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Jangan Salah Meneladani Sejarah

Jangan Salah Meneladani Sejarah

537
0
sumber: freepik.com

Bismillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah menurunkan pedoman terbaik yaitu Al-Qur’an, dan shalawat serta salam tercurah kepada utusan-Nya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan diutusnya beliau, umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Di tangan beliaulah, risalah Islam berkembang dengan gemilang.

Bicara soal peradaban, sudah masyhur diketahui tentang bagaimana dunia menjadi saksi dari timbul tenggelamnya peradaban manusia. Umat Islam meyakini bahwa peradaban manusia di bumi dimulai sejak Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan Nabi Adam ‘alayhisalam dan menurunkannya ke bumi sebagai khalifah—pemimpin di bumi. Lalu peradaban manusia pun berlanjut di masa Rasul pertama—Nabi Nuh ‘alayhi salam hingga Allah menetapkan kehancuran kepada kaum Nabi Nuh dengan membuka pintu air dari langit dan bumi. Banjir besar membinasakan kaum Nabi Nuh. Namun, kembali bicara soal peradaban, apa definisi dari peradaban itu sendiri? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), peradaban adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Sementara menurut Huntington, peradaban adalah suatu identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi bersama dalam unsur-unsur objektif, seperti bahasa, agama, sejarah, institusi, kebiasaan, ataupun melalui identifikasi diri yang subjektif. Dalam pandangan Islam, peradaban dikenal dengan istilah Hadhara, yang secara terminologi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan tetap manusia, meliputi sistem politik, ekonomi, sosial, pemikiran, dan kesenian.

Dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 140, Allah berfirman: “Jika kamu mendapat luka, maka mereka pun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”

Berkaca pada sejarah, dunia sudah mencatat peradaban-peradaban besar yang pernah berlangsung bahkan sangat berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia. Sudah menjadi sunnatullah kejayaan dan kehancuran itu dipergilirkan. Mari menoleh sebentar pada peradaban yang dahulu dikatakan sebagai penguasa sisi barat dunia, yakni Romawi, dan sisi timur dunia, yakni Persia.

Peradaban Romawi menjadi salah satu penguasa dunia yang berkiblat pada ajaran Nasrani, walaupun pada praktiknya ajaran tersebut sudah banyak mengalami penyimpangan ketika para penguasa-penguasanya mengubah ajaran tauhid Nabi Isa Al-Masih. Kebenaran ajarannya dimanipulasi oleh Paulus dan sisanya diberantas habis oleh Konstantin. Dasar dari teologi Romawi tentu tidak didasari oleh teologi yang benar. Sebagian besar keyakinan mereka bercampur aduk dengan keyakinan Yunani hingga Mesir Kuno. Tak heran penyembahan berhala kemudian berkembang menjadi pengultusan atas pendeta dan pemimpin agama sebagai sebuah simbol kesucian. Peradaban Romawi ternyata tidak segemilang dan sekuat yang terlihat. Penyimpangan agama tersebut berimbas kepada kehidupan sosial politik masyarakatnya. Konflik antara kelompok-kelompok Nasrani dari Mesir, Syam, dan Roma bermunculan. Rakyat pun hidup dalam penindasan di bawah kekuasaan Romawi. Rakyat sangat miskin, sementara pejabat pemerintahan hidup bergelimang harta. Kondisi seperti ini juga terjadi di kaum Nasrani Eropa. Konflik dan peperangan tak terelakkan, bahkan kemunduran akal, nilai moral, dan sosial pun terjadi, hingga berkembang perdebatan, apakah wanita adalah jenis hewan atau manusia?

Di sisi timur, berdiri kekaisaran Persia. Kerusakan akidah juga terjadi di masyarakat Persia yang awalnya menyembah dewa-dewa. Kemudian berkembang juga ajaran Zoroaster yang menjadi cikal bakal penyembahan masyarakat Persia kepada api. Ketika Alexander dari Makedonia menyerang Persia pada abad ke-4 SM, muncullah ajaran Majusi yang meyakini bahwa api adalah Tuhan. Selain akidah yang rusak, secara sosial masyarakat Persia mempraktikkan perbedaan strata berdasarkan nasab. Siapa orang yang dianggap paling kuat maka ia pun disucikan. Dalam hal politik, pemerintahan Persia tidak memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Para petinggi sibuk berebut kekuasaan, sementara rakyat terus hidup dalam kemiskinan.

Berdasarkan itu, apakah Romawi dan Persia adalah contoh peradaban yang gemilang? Kegemilangan ternyata berhasil ditunjukkan justru melalui peradaban Islam.

Sebuah peradaban yang bersumber dari wahyu telah mencatat sejarah yang gemilang. Mari sejenak kita renungkan dua ayat dalam kitab-Nya, ketika Allah berfirman:

“Sesungguhnya, agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Q.S. Ali  Imran ayat 19)

“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya ayat 107)

Dua firman di atas menjadi hujjah kuat dari dua hal yang menjadi dasar gemilangnya peradaban, yakni Islam sebagai satu-satunya diin yang diridai Allah dan Rasulullah sebagai utusan yang menjadi rahmat dan teladan bagi seluruh alam semesta. Ajaran Islam yang diimplementasikan dengan sempurna, sekaligus teladan yang juga sempurna, menjadikan peradaban Islam berkembang dan menjadi rahmat, tidak hanya bagi kaum muslimin, tetapi Allah menjamin bagi seluruh alam semesta.

Peradaban Islam dimulai sejak Rasulullah mendirikan negara di Madinah. Wilayah kekuasaannya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan cakupan kekuasaan Romawi dan Persia. Namun, misi kenabian yang dibawa Rasulullah, sukses membentuk sekelompok orang yang kemudian menjadi cikal-bakal dari kelahiran pemimpin-pemimpin besar.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah  itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 110)

Dalam musnad Imam Ahmad, Jaami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Mustadrak Al-Hakim, diriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah bin Haidah, dari ayahnya, ia berkata Rasulullah bersabda:

“Kalian sebanding dengan 70 umat dan kalian adalah sebaik-baik dan semulia-mulia umat bagi Allah.”

Umat dengan kualitas seperti ini tidak lain karena didikan Rasulullah yang berakhlak mulia, sekaligus diutus Allah dengan membawa syariat yang sempurna. Oleh karena itu, sudah sepatutnya peradaban gemilang kembali dengan menempuh jalan yang sama. Kembali kepada syariat yang sempurna dengan mencontoh Nabi yang mulia.

Dalam umat ini, setiap orang punya peran. Betapa banyak teladan yang sudah dicontohkan para sahabat Rasulullah dalam mengisi perannya untuk membangun peradaban Islam. Tidak semua sahabat itu ahli ilmu, banyak di antaranya justru sangat memahami strategi politik perang hingga berdagang. Tidak semua sahabat Rasulullah jadi pemimpin, tetapi setiap langkah di bumi mana mereka jejaki, misi dakwah selalu mereka bawa. Tugas kita, sebagai generasi penerus Rasulullah adalah memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan di jalan-Nya. Memantaskan diri sebagai generasi penerus umat terbaik, hingga Allah berkenan menurunkan pertolongan-Nya untuk memudahkan perjuangan kemenangan agama ini.

Wallahu a’lam bish-shawab

Referensi:

Al-Qur’an Al-Karim Terjemahan

Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 dan 6, juz 4 dan Juz 17

The Great Story of Muhammad

www.kompasiana.com

_________________________________

Penulis : Vilda Sintadela

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here