Home Karya Pemuda Kurma (Tafakur, Muhasabah) Jangan Dimakan!

Jangan Dimakan!

45
0
Pict: freepik.com

Setiap makhluk hidup memerlukan makanan. Di hutan, satu binatang akan memangsa binatang lainnya, sehingga yang kuat akan memangsa yang lemah untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Begitu pun dengan manusia, sebagai makhluk hidup yang menghuni bumi ini, makan merupakan kebutuhan hariannya. Oleh karena itu, tanpa ada perintah pun, manusia pasti akan mencari makan.

Jika kita membaca lembaran-lembaran ayat suci Al-Qur’an, kita akan menemukan begitu banyak perintah Allah Swt. kepada manusia untuk makan. 

Dalam Al-Qur’an, 25 kali manusia diperintahkan makan oleh Allah Swt., dengan kalimat: “Makanlah … makanlah … makanlah …” . Lantas, apa fungsinya Allah Swt. banyak memerintahkan makan, padahal tanpa diperintah pun, manusia pasti akan makan? 

Jika kita perhatikan, ternyata perintah Allah Swt. untuk makan, bukanlah perkara agar manusia banyak makan, tetapi rangkaian kalimat yang menyertai perintah untuk makan itulah yang seharusnya menjadi perhatian.

Mari perhatikan beberapa ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk makan: 

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal juga baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 168)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah Swt., jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah: 172)

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah Swt. ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (Q.S. Al-An’am: 116) 

Selain itu, banyak ayat lain yang redaksinya hampir sama dengan tiga redaksi ayat tersebut. Di ayat pertama, Allah Swt. memerintahkan kita untuk makan disertai dengan kalimat “halal juga baik”. Di ayat kedua, kita diperintahkan makan “dari rezeki yang baik-baik”. Sementara di ayat ketiga, kita diperintahkan makan “binatang yang halal dan disebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ketika hendak menyembelihnya”.

Mengapa begitu pentingnya memperhatikan makanan yang halal dan baik? Sesuatu yang besar pasti dimulai dari perkara yang dianggap kecil. Jika sesuatu yang besar, tetapi hal-hal yang kecilnya tidak diperhatikan, kebesarannya hanya akan membawa kehancuran.

Mengapa para pejabat negara yang diberikan amanah besar untuk memperhatikan rakyatnya, tetapi justru kerjanya malah merampok hak-hak rakyat? Bahkan, jika kita perhatikan berita di berbagai media, di saat masyarakat banyak yang menjerit karena kesulitan ekonomi akibat dampak dari pendemi saat ini. Namun, begitu serakahnya ada manusia yang merampok dana bantuan sosial yang seharusnya diperuntukkan untuk rakyat yang menderita. Hal ini sangat menyesakkan, hanya bisa mengelus dada dan berkata dalam diri, “Sungguh biadab, mengapa hal ini bisa terjadi?” Bisa jadi karena pelaku tidak memperhatikan apa yang dimakannya. Jika ia terbiasa makan yang halal dan juga baik, pastilah tak akan berani untuk memakan makanan dari hasil yang haram.

Islam merupakan agama yang sangat komprehensif, memberikan tuntunan dan pedoman dalam semua aspek kehidupan, baik aspek yang dianggap kecil seperti perkara makan, maupun aspek besar, seperti mengurus negara atau pemerintahan. Mengapa? Karena saat perkara yang kecil begitu sangat diperhatikannya, apalagi perkara yang besar. Sebuah negara akan makmur dan sejahtera jika para pengelolanya adalah orang-orang yang memperhatikan makanannya dengan baik. Jika dalam kehidupan kesehariannya tidak berani memakan harta yang haram, saat menjadi pejabat pun ia tak akan berani untuk memakan hak rakyat. 

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (Q.S. ‘Abasa: 24)

Jika apa yang dimakan itu halal dan juga baik, yang dihasilkannya pun akan baik pula. Sebaliknya, jika apa yang dimakan itu perkara yang haram dan tidak baik, yang dihasilkannya pun buruk. Maka, mulailah untuk memperhatikan makanan yang kita makan. Lihat aspek syariatnya, apakah halal atau tidak? Lihat juga aspek kesehatannya, baik atau tidak untuk tubuh? Insya Allah, jika yang dimasukan ke dalam perutnya baik, yang dikeluarkannya pun akan baik pula. 

_________

Penulis: Indra Ambiya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here