Home Kajian PI Ibunda Para Ulama

Ibunda Para Ulama

78
0
www.freepik.com

Oleh: Ustadzah Siti Khanifah, Lc.

Penulis resume: Neng Rizky


Keshalihan pada anak adalah hadiah dari Allah kepada siapa pun yang Ia kehendaki. Oleh karena itu, keshalihan itu bukanlah dari upaya kita, tetapi murni dari Allah.

Lantas, upaya kita apa? Menghadirkan ashbab-ashbab sehingga Allah memilih kita menjadi orang tua dari anak-anak yang shalih, bahkan ulama.

Shalih = untuk dirinya sendiri

Mushlih = untuk dirinya dan umat

إنما يخشى الله من عباده العلماء

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah mereka para ulama.”

Semakin seseorang berilmu maka semakin ia takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Harapannya setelah kajian ini kita juga semakin takut kepada Allah karena setiap ilmu juga ada penghisabannya.

Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.

Kemudian jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Penjagaan Allah hadir kepada ia yang juga menjaga dirinya sendiri. Tidak ada penjagaan yang lebih baik dari penjagaan Allah maka kita hadirkan ashbab agar dijaga Allah.

Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 5:

عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.”

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ، صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita shalih dari suku Quraisy: paling lembut kepada anak di usia kecil dan paling menjaga pada harta suami.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ 

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk belajar agama.” (H.R. Ibnu Majah)

Itulah sifat-sifat perempuan baik yang tercantum dalam Al-Qur’an dan hadits.

Salah satu faktor dari istiqamah adalah kita mengamalkan suatu amalan karena paham ilmunya, misalnya kita berhijab karena paham landasan kewajibannya. Jika hanya karena trend, kita akan melepas hijab saat trendnya berubah. Seseorang akan bersikap sesuai dengan ilmu yang ia pahami.

Ulama berasal dari kata ‘alim, yaitu mengetahui atau orang-orang yang mengetahui.

Mengapa kita ingin anak kita menjadi ulama? Karena kita ingin mereka menjadi mushlih, orang yang shalih bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk umat.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kepadanya.” (H.R. Muslim)

Jika kita tidak mempunyai sedekah dan ilmu jariyah, ada satu aspek yang bisa kita pegang, yaitu doa anak yang shalih. Salah satu keutamaan kita memiliki anak yang shalih adalah ia akan mendoakan ketika kita sudah meninggal. Namun, jika menjadi ulama, amalnya akan terus mengalir karena ilmunya menjadi manfaat bagi umat dan pahalanya insyaallah mengalir kepada ibunda.

“Sebaik-baiknya manusia ialah generasiku, kemudian generasi selanjutnya, kemudian generasi berikutnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Saat itu adalah masanya para sahabat, sahabat menyaksikan diturunkannya wahyu, sahabat memetik ilmu langsung dari Rasulullah.

Annas bin Malik adalah sahabat Rasulullah dan putra dari Ummu Sulaim. Ia merupakan sahabat yang paling banyak menghafal hadits. Ummu Sulaim menjadikan anaknya sebagai hadiah untuk Rasulullah sebagai wujud kecintaannya kepada Rasulullah. Bahkan Rasulullah mendoakan agar hidupnya Annas bin Malik diberkahi Allah. Usianya lebih dari 100 tahun. Kebunnya panen lebih banyak dan lebih sering daripada kebun orang lain pada saat itu.

Ummu Sulaim sendiri bercerai begitu ia mengikrarkan syahadat kemudian menikah dengan Abu Thalhah dengan bermaharkan keislaman Abu Thalhah. Dari pernikahan dua sahabat Rasulullah saw., Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, lahir seorang anak bernama Abu Umair. Ketika Abu Thalhah pergi, Abu Umair anak satu-satunya dari pasangan tersebut meninggal dunia. Ummu Sulaim mengurus mayat anaknya yang telah tiada dengan penuh ketabahan. 

Setelah dimandikan, Ummu Sulaim menidurkan anaknya di sebuah sudut rumahnya. Kemudian, ia berdandan dan memakai pakaiannya yang terbaik, serta memasak makanan yang lezat untuk menyongsong kepulangan suaminya, Abu Thalhah.

Ketika Abu Thalhah datang dan menanyakan anaknya, Ummu Sulaim berkata, ”Anak kita sekarang sedang istirahat.” Sambutan Ummu Sulaim yang begitu menyenangkan membuat Abu Thalhah tidak lagi merasa lelah dan tidak ada lagi pikiran yang mengganggunya. Dia pun dapat menikmati makanan lezat yang dihidangkan oleh sang istri tercinta.

Ummu Sulaim berkata, ”Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika ada orang yang menitipkan sesuatu kepada seorang temannya. Namun, ketika orang itu meminta kembali barangnya, temannya malah marah?’” Abu Thalhah berkata, “Tidak boleh bertindak demikian sebab bagaimanapun barang titipan harus dikembalikan kepada pemiliknya.”

Kemudian Ummu Sulaim menyambung perkataannya, “Anak yang kita cintai ini hanyalah titipan belaka. Sekarang Allah telah mengambil kembali titipan-Nya itu.” 

Ini adalah kedewasaan seorang wanita yang berlandaskan keimanan. Ummu Sulaim juga wanita yang pemberani untuk ikut berperang dengan Rasulullah di beberapa peperangan.

Kesimpulannya, dari sifat ibu sehebat Ummu Sulaimlah terlahir seorang ulama seperti Imam Malik. Rasulullah sangat berhati-hati terkait bayi yang disusui oleh wanita yang bukan ibunya, untuk tidak sembarangan karena air susu sangat menurunkan sifat.

Imam Bukhari, lahir dalam keadaan buta, kemudian ibundanya berdoa kepada Allah, sehingga ia bermimpi Imam Bukhari dapat melihat. Ternyata keesokan harinya, Imam Bukhari dapat melihat. Masyaallah dengan kegigihan ibundanya, Allah mengijabah doanya.

Dari sini kita berfikir, sudahkan pantaskah kita menjadi ibunda para ulama? 

Sumber: Syi’ar A’lam Nubala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here