Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Sahabat & Shahabiyah Nabi Aku Tidak Rela Jika Beliau Tertusuk Duri

Aku Tidak Rela Jika Beliau Tertusuk Duri

Cinta dan Pengorbanan Dua Utusan Nabi

99
0

Cinta yang mahal merupakan cinta yang tak bisa ditukarkan walaupun nyawa taruhannya. Sebagaimana kisah sahabat mulia Khubaib bin Adi dan Zaid bin Datsinah yang ditawan saat tragedi Ar Raji. Para ulama berbeda pendapat mengenai terjadinya peristiwa ini ada yang menyebutkan terjadi pada tahun 3 Hijriyah dan ada pula yang menyebutkan 4 Hijriyah. Peristiwa ini berawal ketika beberapa utusan dari kabilah Udal dan Qarah datang menghadap kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Tujuannya adalah meminta utusan untuk mengajarkan agama kepada mereka karena syiar Islam telah sampai pada telinga mereka. Nabi pun mengutus beberapa orang sahabat di antaranya ada Murtsid bin Abi Murtsid, Khalid bin Bakir, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah, Abdullah bin Thariq, dll. Nabi pun mengutus 10 sahabat yang dipimpin oleh Ashim bin Tsabit.

Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dengan sanadnya dari Abu Hurairah. Ketika sampai di daerah antara Usfan dan Makkah, disebutkan tentang suatu perkampungan dari suku Hudzail yang dikenal dengan nama Bani Lihyan. Sekitar seratus orang pemanah dari suku tersebut mengejar hingga turun di suatu rumah. Di rumah ini, mereka melihat biji-biji kurma Madinah yang dibuang di suatu rumah. Sehingga mereka curiga lalu melakukan pengejaran yang dilakukan oleh orang-orang suku Hudzail. Ketika Ashim mengetahui hal tersebut, mereka lalu lari ke sebuah bukit kecil di padang pasir. Kemudian mereka membujuk para utusan Nabi tersebut untuk tidak membunuh. Namun yang terjadi ternyata pembunuhan terhadap para utusan Nabi salah satunya yaitu amir shafar Ashim bin Tsabit. Tragedi itu menyisakan tiga orang sahabat di antaranya Khubaib dan Zaid. Hingga akhirnya mereka ditangkap dan dijual ke Mekkah. Khubaib dibeli oleh bani Al Harits sedangkan Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayah.

Bani Al Harits kemudian menyeret Khubaib dari Al Haram untuk dieksekusi. Sebelum dieksekusi Khubaib meminta izin untuk menegakan sholat dua rakaat. Setelah menunaikan shalat Khubaib berkata “Kalau bukan karena khawatir kalian akan menyangka bahwa aku melakukan itu karena takut mati, niscaya aku akan menambah shalat.” Dengan demikian, dia merupakan orang yang pertama kali menyunnahkan shalat dua raka’at sebelum dibunuh. Selanjutnya Khubaib bersyair “Aku tidak peduli asalkan aku dibunuh dalam Islam; atas belahan mana pun karena Allah aku terbunuh. Jika itu sudah menjadi kehendak Allah, Dia akan memberkahi bagian-bagian tubuh yang dipotong-potong.”

Kisah selanjutnya Zaid bin Datsinah yang dibeli oleh Shafwan bin Umayah. Ketika saat hendak dibunuh, Zaid ditanya oleh Abu Sofyan yang saat itu belum menerima cahaya Islam. Abu Sofyan menawarkan keamanan baginya dengan syarat Nabi mulia Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menggantikan dirinya untuk dibunuh. Tetapi Zaid dengan tegas mengatakan “Demi Allah, aku tidak rela jika Muhammad sekarang ini terkena duri sedikit pun, sedangkan aku duduk bersama keluargaku”.

Jawaban itu pun membuat menohok Abu Sofyan lalu beliau berkata “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih dicintai oleh sahabatnya seperti kecintaan sahabat Muhammad terhadap Muhammad.” Begitulah ketika cinta itu telah terpatri dalam hati, walaupun nyawa yang harus dibagi. Jadi, apa bentuk pengorbananmu terhadap Allah dan Nabi?

Begitulah sepenggal kisah dua sahabat mulia Khubaib bin Adi dan Zaid bin Datsinah. Sangat besar kecintaan pada Allah dan Rasulnya sehingga mereka rela mengorbankan nyawanya. Sepatutnya kita mempertanyakan pada diri kita, sudah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan terhadap bentuk kecintaan kita kepada Allah dan Rasulnya. Sebagai bahan renungan dan penguatan,ada sepenggal ayat dalam surat At Taubah ayat 24 yang berisi :

 قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Artinya : “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Asbab (sebab) turunya ayat di atas merupakan kisah dari peperangan Nabi yang akan menyerang pasukan Romawi yang lebih dikenal yaitu peristiwa perang Tabuk. Sebab di saat peristiwa itu orang-orang munafik bahkan sebagian sahabat Nabi sangat berat untuk mengikuti perang Tabuk dengan berbagai alasan seperti jauhnya perjalanan di tengah musim panas yang sangat terik di tengah padang pasir dan alasan lainnya yang telah Allah sebutkan dalam ayat tersebut. Ayat tersebut memberikan tamparan keras bagi orang-orang beriman sebagai sebuah pelajaran dengan janganlah rasa cinta itu melebihi rasa cinta kita kepada Allah, Rasul, dan jihad fii sabilillah. Memang benar, rasa cinta itu butuh pengorbanan. Sebagaimana rasa cinta Khubaib bin Adi dan Zaid bin Datsinah yang melakukan pengorbanan terhadap Allah dan Rasulnya dengan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya.

Penulis : Saudaramu, Agung Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here