Home Teladan Kita/Generasi Peradaban Tokoh & Ulama Cinta, Bukan Sekadar Kata

Cinta, Bukan Sekadar Kata

655
0
Sumber: www.freepik.com

Banyak yang mengagungkan cinta, tetapi gagap langkah dalam aksinya. Ketika berbicara tentang pembuktian, ia menjadi pura-pura lupa. Padahal cinta itu aktif, tidak pasif. Cinta merupakan kata kerja, bukan kata benda. Lantas, kepada siapakah kita belajar memahami cinta? Agar mampu menghadirkan cinta, tetapi tak tersungkur karenanya atau bahkan menjadi bagian dari para pemujanya.

Mari belajar dari sosok berikut, tentang cinta yang berwibawa. Cinta yang membawa namanya hingga ke langit.

Perjalanan jauh telah ditempuh. Ia bersahabat dengan terik matahari dan ganasnya gurun pasir. Berbekal restu sang ibu, pemuda tersebut pergi meninggalkan Yaman. Tak khawatir perbekalan habis, tak menyerah walau tubuh mulai melemah. Demi bertemu Rasulullah, segala rintangan menjadi tak berarti.

Sesampainya di Madinah, harapan untuk menatap wajah sang kekasih (Rasulullah) pun sirna. Bertamu tetapi tidak bertemu, perjalanan panjang berakhir tanpa perjumpaan. Lagi-lagi, ia harus menahan rindu. Pemuda itu memutuskan untuk kembali ke Yaman, bukan karena bosan menunggu, melainkan teringat pesan sang ibu, “Nak, lekaslah pulang.” Tak mungkin ia meninggalkan sang ibu yang tengah sakit-sakitan—seorang diri.

Ialah Uwais Al-Qarni, sosok menyejarah yang layak dikenang dan dijadikan teladan. Rasulullah dan Uwais Al-Qarni memang tak saling bertemu. Namun, Rasulullah dengan fasih bercerita tentang sosok Uwais Al-Qarni.

“Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Bakti Uwais Al-Qarni pada sang ibu telah teruji, kecintaannya pada Rasulullah pun tak diragukan lagi. Bakti dan cintanya begitu tulus. Pantas saja namanya dikenal oleh penduduk langit, hatinya tulus dan tak silau oleh nafsu dikenal.

Belajarlah dari pemimpin para tabi’in, tentang bagaimana memuliakan orang tua, terutama ibu yang telah berpayah-payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita tanpa pernah menuntut balas. Pernahkah mendengar kecaman berikut?

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, tetapi justru ia tidak masuk surga.” (H.R. Muslim No. 2551)

Sungguh, cinta bukanlah sekadar kata tanpa makna. Ada konsekuensi dan tanggung jawab di dalamnya. Cinta kepada Allah, buktikan dengan sepenuhnya menghamba. Cinta kepada Rasulullah, buktikan dengan mengikuti sunnahsunnahnya. Cinta kepada orang tua, buktikan dengan berbakti sepenuh hati. Kemudian, mari senantiasa meminta agar dipalingkan dari cinta yang melemahkan, menuju cinta yang bermuara di surga-Nya.

_________

Penulis: Septi Mahmudah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here