Home Karya Pemuda Muslimah Notes Kepemimpinan dan Wanita

Kepemimpinan dan Wanita

24
0
source : freepik

Allah telah menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi serta menganugerahkan kepadanya bakat dan potensi kepemimpinan untuk memudahkan tugas-tugas kekhilafahan yang diembankan kepada manusia. Tugas kekhilafahan yang sangat berat ini tidak akan mampu dipikul tanpa kerja sama, koordinasi, dan distribusi kepemimpinan yang baik di antara manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa wilayah kepemimpinan wanita adalah keluarga dan rumah tangga suaminya, sedangkan wilayah kepemimpinan laki-laki berada di luar rumah. 

Wanita yang dimaksud di sini dalam konteks seorang istri atau ibu rumah tangga yang baktinya sudah berpindah kepada suaminya, bukan dari anak kepada orang tuanya. Tanggung jawabnya dari mulai mengelola seluruh anggota keluarga sebagai sebuah tim hingga menata semua urusan internal rumah tangga.

Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan laki-laki. Kaum laki-laki diberikan kelebihan oleh Allah Ta’ala, baik fisik maupun mental, dibandingkan kaum wanita, sehingga pantas kaum laki-laki sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (Q.S. An-Nisa: 34)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Laki-lakilah yang seharusnya mengurusi kaum wanita. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, sebagai hakim bagi mereka dan laki-lakilah yang meluruskan apabila menyimpang dari kebenaran. Lalu ayat (yang artinya), ‘Allah melebihkan sebagian mereka dari yang lain’, maksudnya adalah Allah melebihkan kaum laki-laki dari wanita. Hal ini disebabkan karena laki-laki adalah lebih utama dari wanita dan lebih baik dari wanita. Oleh karena itu, kenabian hanya khusus diberikan pada laki-laki, begitu pula dengan kerajaan yang megah diberikan pada laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.’”

Lalu, Di Mana Kepemimpinan Wanita?

Wanita hanya diperbolehkan menjadi pemimpin di rumahnya, itu pun di bawah pengawasan suaminya. Mereka memimpin dalam hal yang khusus, yaitu terutama memelihara diri, mendidik anak, dan memelihara harta suami yang ada di rumah. Tujuan dari semua ini adalah agar kebutuhan perbaikan keluarga teratasi oleh wanita, sedangkan perbaikan masyarakat nantinya dilakukan oleh kaum laki-laki. 

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S. Al Ahzab: 33)

Dan kepemimpinan wanita di dalam rumahnya akan di pertanggungjawabkan, sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya.” (H.R. Bukhari)

Di samping kepemimpinan di dalam rumahnya, wanita juga punya peran besar untuk ikut andil dalam perbaikan umat. Posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memiliki arti yang sangat penting bagi perbaikan masyarakat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al’ Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

  1. Perbaikan secara dhahir. Hal ini bisa dilakukan di pasar-pasar, masjid-masjid, dan selainnya, dari perkara-perkara yang nampak.  Perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki karena merekalah yang bisa keluar untuk melakukannya.
  2. Perbaikan masyarakat yang dilakukan dari dalam rumah. Hal ini dilakukan di dalam rumah dan merupakan tugas kaum wanita karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur di dalam rumahnya.

Oleh karena itu,  peran dalam  perbaikan masyarakat separuhnya atau bahkan mayoritasnya, tergantung kepada wanita. Hal ini disebabkan dua alasan:

  1. Jumlah kaum wanita sama dengan laki-laki, bahkan lebih banyak kaum wanita.  Keturunan Adam mayoritasnya adalah wanita, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi, hal ini berbeda antara satu negeri dengan negeri lain atau satu zaman dengan zaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki, atau sebaliknya.  Namun intinya, wanita memiliki peran yang sangat besar dalam perbaikan masyarakat.
  2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada di bawah asuhan wanita, sehingga sangat jelaslah peran wanita dalam perbaikan masyarakat (Lihat Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’).

Semoga dengan tulisan ini, para wanita semakin memaknai tentang hakikat seorang pemimpin dalam rumah tangganya atau di dalam rumahnya yang juga memiliki andil besar dalam perbaikan umat.

Semangat para ummahat, pendidik generasi masa depan.

***

Referensi:

Al-Qur’anul Karim

_________

Penulis: Rusini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here